Kamis, 31 Desember 2009

Pengembangan Bahan Ajar

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mengapa guru perlu mengembangkan Bahan Ajar?
karena Guru harus memiliki atau menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan :
 kurikulum,
 karakteristik sasaran,
 tuntutan pemecahan masalah belajar.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/
instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang
dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National Center
for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based
Training). Perolehan bahan ajar seharusnya tidak hanya didapatkan dari satu
sumber saja karena dengan diperolehnya bahan ajar hanya dari satu sumber tidak
akan dapat memaksimalkan hasil belajar. Siswa tidak akan mendapatkan ilmu lebih,
mereka hanya menghafal sebuah ilmu dan akan melupakannya. Oleh karena itu,
diperlukan pengembangan bahan ajar yang seharusnya dapat ditemukan oleh guru dari
berbagai sumber atau bahkan dari siswa itu sendiri. Pengembangan bahan ajar yang
tidak hanya terpaku pada satu sumber bahan ajar guru dapat mengembangkan
kecerdasan siswa dan dapat pula memberikan pengalaman bermakna bagi siswa.
Guru sebagai pengembang bahan ajar hendaknya mengetahui tentang apa dan
bagaimana bahan ajar itu, sehingga guru dapat mengembangkan bahan ajar. Oleh
karena itu, pada makalah ini kami mengbahas tentang pengembangan bahan ajar
supaya dapat menjadi panduan pengetahuan mahasiswa calon guru untuk menghadapi
tugasnya kelak sebagai guru dan pengembang bahan ajar.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada diperoleh rumusan masalah antara
lain sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan bahan ajar?
a) Apa pengertian bahan ajar?
b) Apa saja jenis-jenis bahan ajar?
c) Apa saja bentuk-bentuk bahan ajar?
d) Bagaimana Kriteria Bahan Ajar yang Baik?
2. Apa tujuan dan manfaat pengembangan bahan ajar?
3. Bagaimana pengembangan bahan ajar?
a) Apa saja prinsip pemilihan bahan ajar?
b) Bagaimana langkah-langkah memilih bahan ajar?
c) Bagaimana penyusunan bahan ajar?
4. Bagaimana menentukan cakupan dan urutan bahan ajar?
5. Apa saja komponen-komponen model bahan ajar?
6. Apa aspek-aspek yang ada dalam bahan ajar?
7. Apa yang dimaksud dengan sumber bahan ajar?
8. Bagaimana strategi dalam memanfaatkan bahan ajar?
a) Strategi penyampaian bahan ajar oleh guru
b) Strategi mempelajari bahan ajar oleh siswa
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas diperoleh tujuan antara lain sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu memahami tentang apa itu bahan ajar?
2. Mahasiswa mampu memahami tentang apa tujuan dan manfaat pengembangan bahan
ajar?
3. Mahasiswa mampu memahami tentang pemilihan bahan ajar
4. Mahasiswa mampu menyusun bahan ajar
BAB II
PEMBAHASAN


I. Bahan Ajar
A. Pengertian Bahan Ajar (instructional materials)
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan
yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
(National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for
Competency Based Training) dalam Bintek KTSP 2009 (2009: http://bandono.web).
Dengan kata lain, Bahan ajar merupakan alat atau sarana pembelajaran yang
berisi materi, metode4, batasan-Batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang
secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Bahan
ajar akan mengurangi beban guru dalam menyajikan materi (tatap muka), sehingga
dosen lebih banyak waktu untuk membimbing dan membantu peserta didik dalam
proses pembelajaran.
Wahidin (2008: http://makalahkumakalahmu.wordpress.com) menyatakan
bahwa materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai
standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis
materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip,
prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Banyak orang menganggap bahwa bahan ajar sama dengan buku teks,
padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda. Bahan ajar berbeda dengan buku
teks.
B. Jenis-jenis Bahan Ajar
Jenis-jenis bahan ajar meliputi:
a. Lembar informasi (information sheet)
b. Operation sheet
c. Jobsheet
d. Worksheet
Lembar kegiatan siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas
yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa
petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang
diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas KD yang akan dicapainya. Lembar
kegiatan dapat digunakan untuk mata pembelajaran apa saja. Tugas-tugas sebuah
lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik
apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan
materi tugasnya.
Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa teoritis dan
atau tugas-tugas praktis. Tugas teoritis misalnya tugas membaca sebuah artikel
tertentu, kemudian membuat resume untuk dipresentasikan. Sedangkan tugas praktis
dapat berupa kerja laboratorium atau kerja lapangan, misalnya survey tentang
harga cabe dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat. Keuntungan adanya lembar
kegiatan adalah bagi guru, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi
siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu
tugas tertulis
e. Handout, merupakan bahan tertulis yang siapkan oleh seorang guru untuk
memperkaya pengetahuan peserta didik
f. Modul, merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode,
batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan
menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat
kompleksitasnya. Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar
peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru,
sehingga modul berisi paling tidak tentang:
• Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
• Kompetensi yang akan dicapai
• Content atau isi materi
• Informasi pendukung
• Latihan-latihan
• Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
• Evaluasi
• Balikan terhadap hasil evaluasi
Furgon (2009: http://www.tek-nologipendidikan.co.cc) Format atau
bentuk bahan ajar yang sesuai untuk pembelajaran kompetensi dengan pendekatan
belajar tuntas (mastery learning) adalah modul yang bersifat fleksibel. Dalam
hal ini, bahan ajar untuk suatu kompetensi tertentu dikemas dalam format modul
yang fleksibel. Pengemasan bahan ajar kedalam format modul bukan berarti
mengarah pada pembelajaran individual yang menghilangkan pesan guru, tetapi
justru mengarahkan dan lebih mengefektifkan peran guru dan siswa dalam proses
pembelajaran.
Bahan ajar berbentuk modul setidaknya terdiri atas tujuh komponen,
yaitu:
1. Tujuan pembelajaran/pelatihan
2. Lembar evaluasi
3. kedudukan dan fungsi modul dalam kesatuan program yang lebih luas
4. Lembaran kegiatan siswa, yang berisi substansi kompetensi yang akan
dipelajari/diantarkan
5. Lembaran kerja siswa
6. Kunci lembar kerja
7. Pedoman bagi guru
Bahan ajar dalam bentuk modul dibedakan menjadi dua jenis, yaitu modul
inti dan modul pengayaan. Modul inti berisi substansi pembelajaran kompetensi
minimal yang harus dikuasai oleh siswa, sedangkan modul pengayaan berisi
substansi yang bersifat memperluas dan memperdalam kompetensi yang ada pada
modul intii
C. Bentuk-Bentuk Bahan Ajar
Bondono (2009: http://bandono.web.id ) Bentuk Bahan Ajar terdiri dari:
• Bahan cetak (Printed)
Sapta (2009: http://andy-sapta.blogspot.com) Bahan ajar cetak dapat
ditampilkan dalam berbagai bentuk. Jika bahan ajar cetak tersusun secara baik
maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti yang dikemukakan
oleh Steffen Peter Ballstaedt, 1994 yaitu:
a. Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi
seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang
dipelajari
b. Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit
c. Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah
d. Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu
e. Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja
f. Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan
aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa
g. Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar
h. Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri
Bandono (2009: http://bandono.web.id) Penyusunan Bahan Ajar Cetak
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Susunan tampilan
2. Bahasa yang mudah
3. Menguji pemahaman
4. Stimulan
5. Kemudahan dibaca
6. Materi instruksional
Bahan cetak terdiri dari hand out, buku, modul, lembar kerja siswa,
brosur, leaflet, wallchart
• Audio Visual seperti: video/film,VCD
• Audio seperti: radio, kaset, CD audio, PH
• Visual: foto, gambar, model/maket.
• Multi Media: CD interaktif, computer Based, Internet

D. Kriteria Bahan Ajar yang Baik
Bahan ajar yang diberikan kepada siswa haruslah bahan ajar yang
berkualitas. Bahan ajar yang berkualitas dapat menghasilkan siswa yang
berkualitas, karena siswa mengkonsumsi bahan ajar yang berkualitas. Menurut
Furqon (2009: http://www.tek-nologipendidikan.co.cc) Bahan ajar yang baik harus
memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
1. Substansi yang dibahas harus mencakup sosok tubuh dari kompetensi atau sub
kompetensi yang relevan dengan profil kemampuan tamatan.
2. Substansi yang dibahas harus benar, lengkap dan aktual, meliputi konsep fakta,
prosedur, istilah dan notasi serta disusun berdasarkan hirarki/step penguasaan
kompetensi.
3. Tingkat keterbacaan, baik dari segi kesulitan bahasa maupun substansi harus
sesuai dengan tingkat kemampuan pembelajaran.
4. Sistematika penyusunan bahan ajar harus jelas, runtut, lengkap dan mudah
dipahami.
Anonim (2009: http://pbsindonesia.fkip-uninus.org) Dalam pengembangan
bahan ajar, maka bahan ajar harus memiliki beberapa kriteria sebagai berikut.
a) bahan ajar harus relevan dengan tujuan pembelajaran
b) bahan ajar harus seuai dengan taraf perkembangan anak;
c) bahan yang baik ialah bahan yang berguna bagi siswa baik sebagai
perkembangan pengetahuannya dan keperluan bagi tugas kelak di lapangan
d) bahan itu harus menarik dan merangsang aktivitas siswa
e) bahan itu harus disusun secara sistematis, bertahap, dan berjenjang
f) bahan yang disampaikan kepada siswa harus menyeluruh, lengkap dan utuh.
E. Fungsi Bahan Ajar
Anonim (2009: http://pbsindonesia.fkip-uninus.org) Fungsi bahan ajar
adalah sebagai motivasi dalam proses kegiatan belajar mengajar yang lakukan oleh
guru dengan materi pembelajaran yang kontekstual agar siswa dapat melaksanakan
tugas belajar secara optimal. Menurut Furqon (2009: http://www.tek
nologipendidikan.co.cc) Bahan ajar berfungsi sebagai berikut:
1. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses
pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya
diajarkan/dilatihkan kepada siswanya.
2. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses
pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya
dipelajari/dikuasainya.
3. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran
4. membantu guru dalam kegiatan belajar mengajar
5. membantu siswa dalam proses belajar
6. sebagai perlengkapan pembelajaran untuk mencapai tujuan pelajaran
7. untuk menciptakan lingkungan / suasana balajar yang kondusif
II. Tujuan, dan Manfaat Pengembangan Bahan Ajar
A. Tujuan Pengembangan Bahan Ajar
Bahan ajar disusun dengan tujuan antar lain sebagai berikut:
1. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan
mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai
dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik
2. Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping
buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh
3. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran
B. Manfaat Pengembangan Bahan Ajar
 Manfaat bagi guru antara lain sebagai berikut:
1) Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan
kebutuhan belajar peserta didik
2) Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk
diperoleh
3) Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi
4) Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan
ajar
5) Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan
peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada
gurunya
6) Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
 Manfaat bagi Peserta Didik antara lain sebagai berikut:
1) Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
2) Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan
terhadap kehadiran guru.
3) Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus
dikuasainya
III. Pengembangan Bahan Ajar
Furqon (2009: http://www.tek-nologipendidikan.co.cc)
Kebijakan Pengembangan Bahan Ajar
1. Koordinasi pengembangan bahan ajar melalui proyek Kurikulum tahun 1996/1997
pada saat itu dilakukan bersama antara Kasi Kurikulum lingkup Dit.Dikmenjur.
Hal tersebut mengacu pada uraian tugas dan fungsi Kasi Kurikulum berdasarkan
keputusan Mendikbud No. 0222b/1980 dan perubahannya No. 08710/0/1983
2. Berdasarkan keputusan Menndikbud No. 049/0/1997 dan No. 309/0/1997 tanggal
29 Desember 1997 tentang perincian tugas subbagian dab seksi dilingkungan
Dit. Dikmenjur, mulai saat tugas koordinasi pengadaan Bahan Ajar,menjadi
lingkup tu- gas seksi Buku dan Bahan Pelajaran. Namun demikian Seksi
Kurikulum pada Subdit PSG tetap terlibat dalam pengembangan Bahan Ajar.
Karena menyangkut kurikulum dalam arti yang luas. Bahan Ajar adalah bagian
dari Kurikulum.

Admin (2007: http://mgmpips.wordpress.com) Berkenaan dengan pemilihan
bahan ajar ini, secara umum masalah dimaksud meliputi cara penentuan jenis
materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian, perlakuan (treatment)
terhadap materi pembelajaran, dsb. Masalah lain yang berkenaan dengan bahan
ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada
kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku. Padahal banyak
sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan. Bukupun tidak harus satu
macam dan tidak harus sering berganti seperti terjadi selama ini. Berbagai
buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar.
Termasuk masalah yang sering dihadapi guru berkenaan dengan bahan ajar
adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau
terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal, urutan penyajian yang
tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi
yang ingin dicapai oleh siswa. Berkenaan dengan buku sumber sering terjadi
setiap ganti semester atau ganti tahun ganti buku. Sehubungan dengan itu,
perlu disusun rambu-rambu pemilihan dan pemanfaatan bahan ajar untuk membantu
guru agar mampu memilih materi pembelajaran atau bahan ajar dan
memanfaatkannya dengan tepat. Dengan pemilihan bahan ajar yang berkualitas
akan membantu dalam peningkatan kualitas hasil pembelajaran peserta didik. Ada
sebuah pepatah berkaitan dengan tugas guru sebagai pengajar, pengembang
kurikulum dan pengembang bahan ajar, yaitu:
Guru yang bermutu memungkinkan siswanya untuk tidak hanya
dapat mencapai standar nilai akademik secara nasional, tetapi juga
mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang penting untuk belajar
selama hidup mereka” (Elaine B. Johnson).
Berdasarkan pepatah tersebut diperoleh pengetahuan hendaknya sebagai seorang
guru dalam mengembangkan bahan ajar tidak hany mengembangkan kemampuan
kognitif peserta didik tetapi juga dari aspek afektif dan psikomotorik.
G. Prinsip Pemilihan Bahan Ajar
Sudrajat (2008: http://akhmadsudrajat.wordpress.com) Prinsip-prinsip
dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi:
a) prinsip relevansi
Prinsip relevansi artinya materi pembelajaran hendaknya relevan
memiliki keterkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi
dasar.
b) Prinsip konsistensi
Prinsip konsistensi artinya adanya keajegan antara bahan ajar dengan
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Misalnya, kompetensi dasar yang
harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga
harus meliputi empat macam.
c) Kecukupan
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai
dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi
tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu
sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi
dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga
yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
B. Langkah-langkah Pemilihan Bahan Ajar
Sudrajad (2009: http://www.akhmadsudrajat.com) Materi pembelajaranyang
dipilih untuk diajarkan oleh guru dan harus dipelajari siswa hendaknya
berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya
standar kompetensi dan kompetensi dasar. Secara garis besar langkah-langkah
pemilihan bahan ajar meliputi :
1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan
kompetensi dasar.
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu
diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
harus dipelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan,
karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan
jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Sejalan dengan
berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran juga dapat
dibedakan menjadi 3 jenis materi pembelajaran, yaitu:
a) Peta Pengetahuan, Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci
dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan
prosedur (Reigeluth, 1987). Materi jenis fakta adalah materi berupa
nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah,
nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya. Materi
konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi. Materi jenis
prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma, teorema.Materi
jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut,
misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin atau
cara-cara pembuatan bel listrik.
b) Materi pembelajaran aspek afektif meliputi: pemberian respon, penerimaan
(apresisasi), internalisasi, dan penilaian.
c) Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin,
dan rutin.
2. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar.
a) Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk jenis
fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada
satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan
diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya
b) Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya
adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar
kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Identifikasi
jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya.
Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran
atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda.
Misalnya, metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan
menggunakan “jembatan keledai”, “jembatan ingatan” (mnemonics),
sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur adalah “demonstrasi”.
3. Memilih sumber bahan ajar.
Setelah jenis materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan
sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan
dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran,
internet, media audiovisual, dsb.
C. Langkah-langkah Penyusunan Bahan Ajar
a. Penyusun
Didalam penyusunan bahan ajar diperlukan dua tim, yaitu:
1. Tim pengembang Kurikulum menjadi program-program pembelajaran
Tim ini terdiri dari para ahli dibidangnya, akademisi, praktisi,
pengembang kurikulum dan desain pembelajaran, Widya Iswara (PPPG), serta
guru bidang keahlian. Tim ini bersifat nasional untuk tiap-tiap program
studi.
2. Tim penyusun bahan ajar
Tim ini terdiri dari para guru bidang keahlian, praktisi, Widya Iswara
dan akademisi. Tim ini dapat dibentuk untuk tiap-tiap program studi
disetiap sekolah atau kantor Depdiknas ditingkat Wilayah (Propinsi).
Furqon (2009: http://www.tek-nologipendidikan.co.cc) Sebagaimana
disampaikan dimuka, bahan ajar dikembangkan berdasarkan pada rancangan
pembelajaran/pelatihan yang mengacu pada profil kemampuan tamatan.
Didalam rancangan pembelajaran, disusun sistematis tentang substansi
kompetensi/sub-kompetensi, bahan, peralatan, tempat dan alokasi waktu
pelaksanaan pembelajaran.
b. Langkah-langkah penyusunan bahan ajar adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan Kurikulum Menjadi Program-Program Pembelajaran
a) Mengembangkan profil kemampuan tamatan kurikulum SMK 1994 (Reformasi)
tiap-tiap program studi kedalam kelompok-kelompok kompetensi atau sub
kompetensi (a bundle of competence ) serumpun. Setiap ikatan
kopetensi/sub-kompetensi tersebut secara terpisah dapat menunjukkan
suatu penampilan kerja utuh ( kinerja ) atau kemampuan orang melakukan
sesuatu.
b) Menjabatkan ikatan-ikatan kompetensi dan mengoperasionalkannya kedalam
bentuk tujuan-tujuan pembelajaran. Mengingat sesuatu kompetensi/sub
kompetensi, terutama kompetensi teknis ( bukan kompetensi produktif
atau manipulatif ) diharapakan bersifat standar, maka tujuan-tujuan
pembelajaran pada suatu program studi secara nasional sama. Ikatan
ikatan kompetensi dan tujuan-tujuan pembelajaran selanjutnya akan
menjadi acuan bagi pengembangan/ penyusunan bahan ajar.
2. Penyusunan Bahan Ajar
a) Tim penyusun mempelajari secara seksama tentang penjabaran pada ikatan
ikatan kompetensi seperti yang telah dikembangkan oleh tim nasional.
Perlu dicermati setiap tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
b) Tim penyusunan mengembangkan setiap ikatan kompetensi menjadi satu\
paket pembelajaran ( kelompok bahan pelajaran utuh ) yang selanjutnya
dijabarkan kedalam beberapa bahan pelajaran. Penjabaran tersebut harus
mempertimbangkan hirarki/keruntutan substansi, proses pembelajaran,
saran dan prasarana yang tersedia.
c) Tim penyusunan mempelajari secara seksama tentang substansi yang akan
disusun dalam bahan ajar. Dalam hal ini perlu dipelajari berbagai
sumber acuan yang relevan, terutama buku-buku pegangan yang ada.
d) Apabila substansi yang diperolah belum memadai, maka tim penyusun perlu
melakukan percobaan demonstrasi unjuk kerja tentang substansi
kompetensi yang akan disusun. Misalnya, secara langsung melaksanakan
atau mengamati seseorang yang sedang melakukan pekerjaan pengelasan
logam ( kompetensi tertentu ). Dengan melakukan hal tersebut, maka tim
akan memperoleh bahan yang lengkap tentang substansi pokok apa saja
yang perlu disusun, bagaimana prosedurnya, pengetahuan pendukung apa
yang diperlukan, alat dan bahan yang diperlukan, dan lain sebagainya.
e) Tim penyusun bahan ajar seperti telah dijelaskan pada bagian
sebelumnya, yaitu: Tujuan pembelajaran/pelatihan, Lembar evaluasi,
Kedudukan dan fungsi bahan ajar dalam kesatuan program yang lebih luas,
Lembaran kerja siswa (yang berisi substansi yang disusunnya),
kompetensi yang akan dipelajari/diajarkan, Lembaran kerja siswa, Kunci
lembar kerja, Pedoman bagi guru.
f) Bahan ajar yang telah disusun perlu divalidasi, dimintakan masukan
kepada pihak-pihak yang berkompeten terutama para ahli dan praktisi
serta akademisi yang menguasai bidang keahlian tersebut. Satu hal yang
juga perlu dilakukan adalah meminta masukan kepada ahli kurikulum dan
desain instruksional, kaitannya dengan kelayakan dan pelaksanaan
pembelajaran. Berdasarkan masukan-masukan tersebut, tim memperbaiki
rancangan bahan ajar yang disusunnya.
g) Bahan yang telah disusun kemudian diuji cobakan pada kondisi proses
pembelajaran yang sebenarnya dikelas/bengkel/lab. Dalam uji coba
tersebut perlu diamati kendala-kendala yang dihadapi dalam proses
pembelajaran dan kekurangan-kekurangan yang ada pada modul.
h) Berdasarkan temuan-temuan pada uji coba pembelajaran pada kondisi
sebenarnya, maka tim perlu memperbaiki dan menyempurnakan bahan ajar
yang disusunnya.


Bandono (2009: http://bandono.web.id) Teknik Penyusunan Bahan Ajar (Analisis
Bahan Ajar):
a. Analisis SK-KD-Indikator
b. Analisis Sumber Belajar
c. Pemilihan dan Penentuan Bahan Ajar

Tiga cara untuk penulisan bahan ajar antara lain sebagai berikut:
1. Menulis sendiri
2. Pengemasan kembali informasi
3. Penataan Informasi
Furqon (2009: http://www.tek-nologipendidikan.co.cc) Bahan ajar harus
ditulis dengan bahasa yang baku, universal, jelas, sederhana, komunikatif dan
mudah dipahami oleh pembelajar. Sebaiknya digunakan notasi-notasi dan istilah
istilah yang lazim dan banyak digunakan dilingkungan sekolah/dunia kerja. Untuk
lebih memudahkan memahami substansi perlu dilengkapi dengan ilustrasi atau
gambar-gambar yang secara visual dapat memberikan gambaran nyata tentang
substansi yang dipelajarinya.
Aturan penulisan atau tata tulis bahan ajar hendaknya dibuat
sehingga ada keseragaman. Untuk itu penyusunan bahan ajar hendaknya menggunakan
tata tulis sesuai kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baku, dengan memperhatikan
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
D. Prinsip Pengembangan Bahan Ajar
Sapta (2009: http://andy-sapta.blogspot.com) Prinsip pengembangan bahan
ajar:
1. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk
memahami yang abstrak
Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasan
dimulai dari yang mudah atau sesuatu yang kongkret, sesuatu yang nyata ada di
lingkungan mereka. Misalnya untuk menjelaskan konsep pasar, maka mulailah
siswa diajak untuk berbicara tentang pasar yang terdapat di tempat mereka
tinggal. Setelah itu, kita bisa membawa mereka untuk berbicara tentang
berbagai jenis pasar lainnya.
2. Pengulangan akan memperkuat pemahaman
Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar siswa lebih memahami
suatu konsep. Dalam prinsip ini kita sering mendengar pepatah yang mengatakan
bahwa 5 x 2 lebih baik daripada 2 x 5. Artinya, walaupun maksudnya sama,
sesuatu informasi yang diulang-ulang, akan lebih berbekas pada ingatan siswa.
Namun pengulangan dalam penulisan bahan belajar harus disajikan secara tepat
dan bervariasi sehingga tidak membosankan
3. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman peserta
didik
Seringkali kita menganggap enteng dengan memberikan respond yang sekedarnya
atas hasil kerja siswa. Padahal respond yang diberikan oleh guru terhadap
siswa akan menjadi penguatan pada diri siswa. Perkataan seorang guru seperti
’ya benar’ atau ‚’ya kamu pintar’ atau,’itu benar, namun akan lebih baik
kalau begini...’ akan menimbulkan kepercayaan diri pada siswa bahwa ia telah
menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Sebaliknya, respond negatif
akan mematahkan semangat siswa. Untuk itu, jangan lupa berikan umpan balik
yang positif terhadap hasil kerja siswa.
4. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
belajar
Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih berhasil dalam
belajar. Untuk itu, maka salah satu tugas guru dalam melaksanakan
pembelajaran adalah memberikan dorongan (motivasi) agar siswa mau belajar.
Banyak cara untuk memberikan motivasi, antara lain dengan memberikan pujian,
memberikan harapan, menjelas tujuan dan manfaat, memberi contoh, ataupun
menceritakan sesuatu yang membuat siswa senang belajar, dll.
5. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan
mencapai ketinggian tertentu
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan berkelanjutan. Untuk
mencapai suatu standard kompetensi yang tinggi, perlu dibuatkan tujuan-tujuan
antara. Ibarat anak tangga, semakin lebar anak tangga semakin sulit kita
melangkah, namun juga anak tangga yang terlalu kecil terlampau mudah
melewatinya. Untuk itu, maka guru perlu menyusun anak tangga tujuan
pembelajaran secara pas, sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam bahan ajar,
anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator kompetensi.
6. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta didik untuk terus
mencapai tujuan
Dalam pembelajaran, setiap anak akan mencapai tujuan tersebut dengan
kecepatannya sendiri, namun mereka semua akan sampai kepada tujuan meskipun
dengan waktu yang berbeda-beda.
IV. Langkah menentukan cangkupan dan Urutan Bahan Ajar
A. Menentukan Cakupan Bahan Ajar
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup
materi pembelajaran:
1. harus diperhatikan apakah jenis materinya berupa aspek kognitif (fakta,
konsep, prinsip, prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik
2. memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan
cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman
materinya. Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan berapa banyak
materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran,
sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang
terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai oleh siswa.
3. Kecukupan (adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu
diperhatikan dalam pengertian. Cukup tidaknya aspek materi dari suatu
materi pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi
dasar yang telah ditentukan. Cakupan atau ruang lingkup materi perlu
ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid
terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah cukup

Anonim (2009: http://pbsindonesia.fkip-uninus.org) Dalam sosialisasi KTSP
Depdiknas bahan ajar mencakup:
1) judul, MP, SK, ICD, indikator, tempat
2) petunjuk belajar (petunjuk siswa / guru)
3) tujuan yang akan dicari
4) informasi pendukung
5) latihan-latihan
6) petunjuk kerja
7) penilaian.
B. Menentukan Urutan Bahan Ajar
Wahidin (2008: http://makalahkumakalahmu.wordpress.com) Urutan penyajian
(sequencing) bahan ajar sangat penting untuk menentukan urutan mempelajari atau
mengajarkannya. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi
pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan
menyulitkan siswa dalam mempelajarinya. Misalnya materi operasi bilangan
penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Siswa akan mengalami
kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan belum dipelajari. Siswa
akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan belum dipelajari.
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat
diurutkan melalui dua pendekatan pokok , yaitu: pendekatan prosedural, dan
hierarkis.
a. Pendekatan prosedural yaitu urutan materi pembelajaran secara prosedural
menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah
melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah menelpon, langkah-langkah
mengoperasikan peralatan kamera video.
b. pendekatan hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari
bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari
dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
V. Komponen-Komponen Model Bahan Ajar
Anonim (2009: http://pbsindonesia.fkip-uninus.org) Dalam KTSP 2008
menetapkan susunan bahan ajar dengan komponen-komponen sebagai berikut.
 Komponen kebahasaan mencakup:
1) keterbacaan
2) kejelasan informasi
3) kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar
4) pemanfaatan bahasa secara efektif dan efisien.
 Komponen penyajian mencakup:
1) kejelasan tujuan (indicator) yang ingin dicapai
2) urutan sajian
3) pemberian motivasi, daya tarik
4) interaksi (pemberian stimulus dan respons).
 Komponen kegrafikan mencakup:
1) penggunaan font, jenis, dan ukuran
2) lay out atau tata letak
3) ilustrasi, gambar, foto
4) desain tampilan.
VI. Aspek Bahan Ajar
Harjanto (2005: 220-221) Didalam materi pelajaran terdapat beberapa aspek
yang terkandung didalmnya, antara lain:
1. Konsep adalah Suatu ide atau gagasan atau suatu pengertian yang umum,
misalnya sumber kekayaan alam yang dapat diperbaharui
2. Prinsip adalah suatu kjebenaran dasar sebagai titik tolak untuk berpikir atau
merupakan suatu petunjuk untuk berbuat atau melaksanakan sesuatu
3. Fakta adalah sesuatu yang terjadi atau yang telah dikerjakan/dialami. Mungkin
berupa hal, obyek atau keadaan. Jadi bukan sesuatu yang diinginkan atau
pendapat atau teori. Contoh: Proklamasi Kemerdekaan RI adalah tanggal 17
Agustus 1945
4. Proses adalah serangkaian perubahan, gerakn-gerakn perkembangan
5. Nilai adalah suatu pola, ukuran atau merupakan suatu tipe atau model
6. Keterampilan adalah kemampuan berbuat sesuatu dengan baik
VII. Sumber Bahan Ajar
Che (2008: http://www.candilaras.co.cc) Sumber bahan ajar merupakan
tempat di mana bahan ajar dapat diperoleh. Dalam mencari sumber bahan ajar,
siswa dapat dilibatkan untuk mencarinya, sesuai dengan prinsip pembelajaran
siswa aktif (CBSA). Berbagai sumber dapat kita gunakan untuk mendapatkan materi
pembelajaran dari setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sumber-sumber
dimaksud dapat disebutkan di bawah ini:
(a) buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit . Gunakan sebanyak mungkin
buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas
(b) laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh
para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang atual
atau mutakhir
(c) Jurnal penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah. Jurnal-jurnal
tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di
bidangnya masing-masing yang telah dikaji kebenarannya
(d) Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar
yang dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar,
ruang lingkup, kedalaman, urutan, dsb
(e) Profesional yaitu orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu. Kalangan
perbankan misalnya tentu ahli di bidang ekonomi dan keuangan
(f) Buku kurikulum penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena
berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi
bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang tercantum dalam kurikulum
hanya berisikan pokok-pokok materi
(g) Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulananyang banyak
berisikan informasi yang berkenaan dengan bahan ajar suatu matapelajaran
(h) Internet yang yang banyak ditemui segala macam sumber bahan ajar. Bahkan
satuan pelajaran harian untuk berbagai matapelajaran dapat kita peroleh
melalui internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi
(i) Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai
jenis mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di
laut, di hutan belantara melalui siaran televisi
(j) lingkungan ( alam, sosial, senibudaya, teknik, industri, ekonomi). Perlu
diingat, dalam menyusun rencana pembelajaran berbasis kompetensi, buku-buku
atau terbitan tersebut hanya merupakan bahan rujukan. Artinya, tidaklah
tepat jika hanya menggantungkan pada buku teks sebagai satu-satunya sumber
bahan ajar. Tidak tepat pula tindakan mengganti buku pelajaran pada setiap
pergantian semester atau pergantian tahun. Buku-buku pelajaran atau buku
teks yang ada perlu dipelajari untuk dipilih dan digunakan sebagai sumber
yang relevan dengan materi yang telah dipilih untuk diajarkan. Mengajar
bukanlah menyelesaikan satu buku, tetapi membantu siswa mencapai kompetensi.
Karena itu, hendaknya guru menggunakan banyak sumber materi. Bagi guru,
sumber utama untuk mendapatkan materi pembelajaran adalah buku teks dan buku
penunjang yang lain.
VIII. Strategi Pemanfaatan Bahan Ajar
Secara garis besarnya, dalam memanfaatkan bahan ajar terdapat i dua
strategi, yaitu:
A. Strategi Penyampaian Bahan Ajar oleh Guru
Strategi penyampaian bahan ajar oleh guru, diantaranya:
1. Strategi urutan penyampaian simultan yaitu jika guru harus menyampaikan
materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan
penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara
serentak, baru kemudian diperdalam satu demi satu (Metode global)
2. Strategi urutan penyampaian suksesif, jika guru harus manyampaikan
materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan
panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara
mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya
secara mendalam pula
3. Strategi penyampaian fakta, jika guru harus manyajikan materi
pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat,
peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb.)
4. Strategi penyampaian konsep, materi pembelajaran jenis konsep adalah
materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah
agar siswa paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan,
membandingkan, menggeneralisasi, dsb.Langkah-langkah mengajarkan konsep:
Pertama sajikan konsep, kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri
pokok, contoh dan bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise)
misalnya berupa tugas untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan
balik, dan kelima berikan tes
5. Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip, termasuk materi
pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law), postulat,
teorema, dsb
6. Strategi penyampaian prosedur, tujuan mempelajari prosedur adalah agar
siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar
paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah
langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut.
B. Strategi mempelajari Bahan Ajar oleh Siswa
Ditinjau dari guru, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran
berupa kegiatan guru menyampaikan atau mengajarkan kepada siswa. Sebaliknya,
ditinjau dari segi siswa, perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa
mempelajari atau berinteraksi dengan materi pembelajaran. Secara khusus
dalam mempelajari materi pembelajaran, kegiatan siswa dapat dikelompokkan
menjadi empat, yaitu :.
1. Menghafal (verbal parafrase). Ada dua jenis menghafal, yaitu menghafal
verbal (remember verbatim) dan menghafal parafrase (remember paraphrase).
Menghafal verbal adalah menghafal persis seperti apa adanya. Terdapat
materi pembelajaran yang memang harus dihafal persis seperti apa adanya,
misalnya nama orang, nama tempat, nama zat, lambang, peristiwa sejarah,
nama-nama bagian atau komponen suatu benda, dsb. Sebaliknya ada juga
materi pembelajaran yang tidak harus dihafal persis seperti apa adanya
tetapi dapat diungkapkan dengan bahasa atau kalimat sendiri (hafal
parafrase). Yang penting siswa paham atau mengerti, misalnya paham inti
isi Pembukaan UUD 1945, definisi saham, dalil Archimides, dsb.
2. Menggunakan/mengaplikasikan (Use). Materi pembelajaran setelah dihafal
atau dipahami kemudian digunakan atau diaplikasikan. Jadi dalam proses
pembelajaran siswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan, menerapkan
atau mengaplikasikan materi yang telah dipelajari. Penggunaan fakta atau
data adalah untuk dijadikan bukti dalam rangka pengambilan keputusan.
Penggunaan materi konsep adalah untuk menyusun proposisi, dalil, atau
rumus. Selain itu, penguasaan atas suatu konsep digunakan untuk
menggeneralisasi dan membedakan. Penerapan atau penggunaan prinsip adalah
untuk memecahkan masalah pada kasus-kasus lain. Penggunaan materi
prosedur adalah untuk dikerjakan atau dipraktekkan. Penggunaan materi
sikap adalah berperilaku sesuai nilai atau sikap yang telah dipelajari.
Misalnya, siswa berhemat air dalam mandi dan mencuci setelah mendapatkan
pelajaran tentang pentingnya bersikap hemat.
3. Menemukan. Yang dimaksudkan penemuan (finding) di sini adalahmenemukan
cara memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan fakta, konsep,
prinsip, dan prosedur yang telah dipelajari. Menemukan merupakan hasil
tingkat belajar tingkat tinggi. Gagne (1987) menyebutnya sebagai
penerapan strategi kognitif. Misalnya, setelah mempelajari hukum bejana
berhubungan seorang siswa dapat membuat peralatan penyiram pot gantung
menggunakan pipa-pipa paralon. Contoh lain, setelah mempelajari
sifat-sifat angin yang mampu memutar baling-baling siswa dapat membuat
protipe, model, atau maket sumur kincir angin untuk mendapatkan air tanah.
4. Memilih di sini menyangkut aspek afektif atau sikap. Yang dimaksudkan
dengan memilih di sini adalah memilih untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu. Misalnya memilih membaca novel dari pada membaca tulisan ilmiah.
Memilih menaati peraturan lalu lintas tetapi terlambat masuk sekolah atau
memilih melanggar tetapi tidak terlambat, dsb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar